Minggu, 06 Juli 2014

EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)

Sejarah EYD
žEjaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. žDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah".

PENGERTIAN EJAAN
žPengertian Ejaan ialah keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman.
žEjaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan
atas ejaan-ejaan sebelumnya.

Perbedaan Ejaan lama dan EYD baru
Contoh Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan lama :
§‘tj’ menjadi ‘c’ : tjutji menjadi cuci
§‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak menjadi jarak
§‘oe’ menjadi ‘u’ : oemoem menjadi umum
§‘j’ menjadi ‘y’ : sajang menjadi sayang
§‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk menjadi nyamuk
§‘sj’ menjadi ‘sy’ : sjarat menjadi syarat

PENGGUNAAN EYD
žEjaan yang disempurnakan ( EYD ) mengatur :
ž1.    Pemakaian Huruf,
ž2.    Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

1. Pemakaian Huruf
žAbjad di Indonesia berjumlah 26 huruf yang melambangkan bunyi-bunyi bahasa (fonem), terdiri dari 5 huruf vokal dan 21 huruf konsonan. Bahasa Indonesia juga mengenal gabungan huruf yang padu yang lazim disebut Diftong. Jumlah diftong ada tiga yaitu ai, au, dan oi. Contoh diftong antara lain : pantai, pukau dan amboi.

2. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring
a.  Huruf Kapital atau Huruf Besar
Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung, ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, nama geografi, dll.
Contoh :
Nama jabatan pangkat yang diikuti nama orang, instansi atau tempat
contoh kalimat:
a.     Gubernur DKI Jakarta meresmikan pengunaan busway.
b.     Kolonel Suparman berhasil mengungkap kasus korupsi kemarin.

b. Huruf Miring
Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk menegaskan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Contoh :
- Surat kabar Suara Merdeka
-Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar
-Buah Manggis nama ilmiahnya adalah Garnicia mangostana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar